Danau Singkarak Telah Mendunia Sejak Dahulu Kala

Danau Singkarak Telah Mendunia Sejak Dahulu Kala – Danau Singkarak merupakan danau kawah terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Luasnya sekitar 1000 hektar. Ini berisi dua kabupaten, Solok dan Tanah Datar. Air di Danau Singkarak sangat tenang, danau ini dikelilingi perbukitan.

Danau Singkarak Telah Mendunia Sejak Dahulu Kala

tourdesingkarak – Indonesiatravel melaporkan bahwa keindahan Danau Singkarak sudah ada sejak tahun 1905. Naturalis Jerman Ernst Heackel mempresentasikannya dalam bukunya Wanderbilder. Ernst Heackel terkagum-kagum dengan indahnya panorama danau yang indah itu. Ia juga melukis danau Singkarak.

Cerita Danau Singkarak

Menurut cerita, bahwa Danau Singkarak merupakan sumber dari Sungai Batang Obilin yang dulunya merupakan lautan. Air laut kemudian menyusut hingga dikenal sebagai Danau Singkarak. Namun menurut ilmu pengetahuan, Danau Singkarak merupakan danau tektonik, yaitu danau yang terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik. Danau Singkarak dapat berubah akibat pergerakan lempeng tektonik. Menurut hasil penelitian, panjang danau ini awalnya hanya 3 km, kemudian bertambah menjadi 8 km, kemudian 13 km, dan sekarang menjadi 23 km. Panjang danau diperkirakan akan terus bertambah.

Baca Juga : Menikmati Pemandangan Di Danau Singkarak Sumatera Barat

Hingga 19 spesies ikan hidup di Danau Singkarak. Diantaranya adalah lele; Tutup; mujair Gurami dan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain adalah ikan bilih. Ikan Bilih, ikan yang unik karena tidak bertahan hidup di mana pun kecuali Danau Singkarak. Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan ikan kawanan asli yang berkembang biak di tepi Danau Singkarak. Ikan ini, seperti dilansir Kompas, ditemukan oleh peneliti Belanda Weber dan Beaufort pada tahun 1912. Ikan bilih memiliki sisik berwarna perak mirip burung wading, ukuran maksimalnya 5 sentimeter.

Akomodasi dan kegiatan

Jika Anda tertarik untuk berlibur di Danau Singkarak, terdapat banyak hotel di kawasan utama Solok-Bukitting dan Tanah Datar. Anda juga bisa menginap di Umbilin, ada hotel di sekitar danau. Menurut sebuah Indonesia.travel, Anda juga bisa mencoba sebuah Hotel Tikalak Kacang Singkarang, Palapa Prima, Alahan Panjang Helmaya, Danau Sri Rezeki, Hotel Caredek dan Hotel Taufina. Di sini Anda bisa melakukan banyak aktivitas. Anda bisa berenang, berkano di sekitar danau, memancing dari tepi danau dan bergabung dengan para nelayan saat mereka memancing. Anda juga akan berwisata kuliner dimana Anda akan mencicipi warung-warung yang ada di sekitar tempat wisata ini.

Jalan Menuju Singkarak

Danau Singkarak berjarak 70 km dari Padang; 20 km dari Solok dan kurang lebih 36 km dari Bukitting. Anda bisa menyewa mobil atau minibus dari Bandara Internasional Minangkabau untuk menuju ke danau ini. Dalam perjalanan Anda akan melewati kawasan Sitinjau Laut yang terkenal dengan kelokan-kelokan dan jurang-jurangnya yang curam. Anda juga bisa melihat Gunung Singgalang. Blog Info Transportasi menawarkan rute perjalanan ke Singkarak yang dapat Anda pilih.

Pesona Danau Terbesar di Sumatra Barat

Secara administratif, Danau Singkarak terletak di dua wilayah yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Dari lima danau yang ada di provinsi Sumatera Barat, Singkarak merupakan danau yang terbesar. Danau Singkarak berada di Jalan Raya Sumatera, lebih tepatnya di jalur Solok-Bukittinggi. Siapa pun yang melewati jalan raya ini dapat menikmati keindahan danau dengan latar Gunung Merapi dan Singgalang. Pemandangan alam danau ini sungguh luar biasa. Di sebelah jalan raya, terdapat rel kereta api tua di sisi danau yang membentang di antara jalan raya dan perbukitan. Pemerintah Hindia Belanda membangun rel kereta api untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Emma Haven atau dari pelabuhan Teluk Bayur ke Padang.

Danau Singkarak adalah merupakan sebuah danau tektonik dengan seluas sekitar kurang lebih 107,8 kilometer persegi. Danau ini juga merupakan sebuah danau yang terbesar kedua di dalam Pulau Sumatera setelah dari Danau Toba. Permukaan danau adalah 363 meter di atas permukaan laut. Danau ini memiliki kedalaman 268 meter. Juga Danau ini adalah merupakan sebuah bagian dari sebuah Cekungan Singkarak Soloki yang adalah merupakan sebuah bagian dari gugus Sesar Sumatera. Cekungan danau ini terbentuk akibat penurunan muka tanah yang disebabkan oleh Sesar Sumatera. Cekungan besar itu adalah bendungan yang terbuat dari material vulkanik dari letusan gunung berapi di sekitarnya.

Bendungan material berupa vulkanik ini telah membentuk sebuah Danau Maninjau di dalam bagian Cekungan bagia Singkarak-Solok. Sangat Berbeda dengan sebuah Danau Maninjau yang juga terbentuk akibat letusan gunung berapi, Danau Singkarak terbentuk akibat proses tektonik. Karena danau tersebut termasuk dalam kategori danau tektonik, ukurannya masih dapat berubah setelah pergerakan lempeng tektonik. Menurut kajian para ahli, panjang danau tersebut awalnya hanya tiga kilometer (km), kemudian bertambah menjadi delapan kilometer, 13 kilometer, dan akhirnya menjadi sekitar 23 kilometer. Diperkirakan panjang danau itu bisa terus diperpanjang.

Berdasarkan sebuah data sejarah, sebuah keindahan Danau Singkarak yang pertama kali telah dipublikasikan pada sekitar tahun 1905 oleh sebuah buku dengan naturalis (peneliti) Jerman Ernst Haeckel kepada dunia. Ernst Haeckel tidak hanya mempelajari sebuah ekosistem danau dan juga sekitarnya, ia juga bahkan telah terkagum-kagum dengan beberapa keindahan dalam danau ini. Untuk mengungkapkan kekagumannya, Haeckel pun “meniru” keindahan danau ini dalam lukisan-lukisan di bukunya.

Saat ini, danau ini semakin dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Apalagi setelah balap sepeda Tour de Singkarak yang digelar setiap tahun sejak 2009 lalu. Ada beberapa tempat di ketinggian yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati keindahan danau yang dikelilingi oleh Bukit Barisan ini. Tempat-tempat tersebut antara lain Puncak Thailand, Puncak Aua Sarumpun atau Puncak Layang-Layang, Puncak Payo atau Angin Puyuh, Puncak Cinangkiak, Puncak sebuah Gobah Aripan, Puncak Akasia, Puncak Gagoan Puncak Makau-Makau, dan juga Puncak Ahmad Sadin.

Recommended Articles